Kamis, 19 Juli 2012

Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah

Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah- Gaya kepemimpinan kepala sekolah adalah sikap, gerak-gerik atau lagak yang dipilih oleh seseorang kepala sekolah dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Gaya yang dipakai oleh  seorang  kepala sekolah  satu  dengan  yang  lain berlainan  tergantung  situasi  dan kondisi  kepemimpinannya. Gaya  kepemimpinan  kepala sekolah merupakan  norma  perilaku  yang dipergunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain.  Gaya  kepemimpinan  adalah  suatu  pola perilaku  yang konsisten  yang ditinjukan oleh kepala sekolah dan diketahui pihak lain ketika pemimpin berusaha mempengaruhi kegiatan-kegiatan orang lain.

Kepemimpinan Kepala Sekolah

Kepemimpinan Kepala Sekolah- Salah satu persoalan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa kita adalah persoalan  mutu  pendidikan  pada  setiap  jenjang  dan  satuan  pendidikan.  Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan meningkatkan mutu manajemen sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah sebagai bagian dari managemen berbasis sekolah menjadi hal yang penting dalam persoalan pendidikan.

Pemimpin memiliki peranan yang dominan dalam sebuah organisasi. Peranan yang dominan tersebut dapat
mempengaruhi moral kepuasan kerja keamanan, kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi
suatu organisasi.Secara bahasa, makna kepemimpinan itu adalah kekuatan atau kualitas seseorang pemimpin dalam mengarahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen, tetapi tidak sama dengan manajemen. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnya seperti perencanaan, penorganisasian , pengawasan dan evaluasi.

Dalam  Undang-Undang  No.25  tahun  2000  tentang  program pembangunan nasional 2000-2004 untuk
sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses   pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka, dinamik dan demokratis. Untuk pendidikan dasar dan menengah, proses pengambilan keputusan yang otonom seperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan Managemen Berbasis Sekolah (MBS). Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan, kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat, partisipatif, dan demokratis.Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran.


Secara bahasa, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata, yaitu manajemen, berbasis,
dan sekolah. Manajemen adalah proses menggunakan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.
Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau asas. Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat untuk menerima dan memberikan pelajaran. Berdasarkan makna leksikal tersebut maka MBS dapat diartikan sebagai  penggunaan sumber daya  yang berasaskan  pada sekolah  itu  sendiri  dalam  proses  pengajaran  atau pembelajaran.


Secara umum manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi   lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif  yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan, orangtua   siswa,   dan   masyarakat)   untuk   meningkatkan   mutu   sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Dengan otonomi yang lebih besar, maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya, sehingga sekolah lebih mandiri. Dengan kemandiriannya, sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang, tentu saja, lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. Demikian juga, dengan pengambilan keputusan partisipatif, yaitu pelibatan warga sekolah secara langsung dalam pengambilan keputusan, maka rasa memiliki warga sekolah dapat  meningkat.   Peningkatan   rasa   memiliki   ini   akan   menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab, dan peningkatan rasa tanggungjawab,dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya.